Selasa, 2 September 2014. Hari dimana Jurnalistik UIN SGD
Bandung, terutama Jurnalistik A 2013, berduka atas kepergian keluarga, sahabat,
dan teman kami tercinta, Desha Mughni Effendy. Desha meninggal dunia di rumah
sakit Al-Islam Bandung karena penyakit, yang, kebanyakan dari kami tidak
mengetahui sebelumnya. Bahkan mungkin tak satupun dari anggota kelas saya,
jurnalistik A 2013, mengetahui bahwa penyakit yang Desha derita sudah sangat
parah. Menurut ibunda Desha, diagnosa terakhir dokter adalah TBC paru-paru dan
usus stadium akhir. Desha juga mengidap paru-paru basah yang cukup parah.
Hal paling menyedihkan bagi saya pribadi adalah gagalnya
saya menjenguk Desha sebelum almarhumah meninggal dunia. Sehari sebelum Desha
meninggal, dua teman saya, Amel dan Dea, sempat menjenguk almarhumah.
Kondisinya sudah sangat kritis, katanya. Desha tidak sadarkan diri dan
selang-selang sudah menempel pada tubuhnya. Untuk bernapas pun Desha
membutuhkan alat bantu. Setelah mendengar kabar tersebut, saya dan teman saya,
Dila, berniat untuk menjenguk Desha keesokan harinya. Namun ternyata, esoknya Desha
meninggal tepat pukul 00.00 waktu setempat.
Paginya sekitar pukul setengah sembilan, saya memang bertemu
Desha. Namun sayang, almarhumah tak lagi bisa melihat saya. Perjumpaan saat itu
pun bukan ‘menjenguk’ seperti yang saya harapkan. Penyesalan menyelimuti diri
saya waktu itu. Seandainya waktu bisa diputar kembali, ingin rasanya menjenguk
dan merawat Desha walau hanya sebentar. Perjumpaan terakhir saya dengan Desha
terjadi pada bulan Juni 2014. Setelah itu kami libur jeda semester selama dua
bulan. Sakit yang diderita Desha makin memburuk pada pertengahan liburan. Jarak
yang cukup jauh antara Bekasi dan Bandung membuat saya selalu menunda untuk
menjenguk. Penundaan ini berakhir dengan kegagalan yang sempat saya sesali. Namun
memang beginilah takdir yang sudah digariskan Tuhan.
Hari ini, 22 November 2014, tepat hari ke 81 yang kami lalui
tanpa kamu, Desha. Entah mengapa saya sangat merindukan kamu beberapa hari
terakhir. Saya rindu tawa, gurauan, dan keluh kesah yang sering kamu lontarkan
pada saya. Saya rindu menghabiskan waktu menunggu kamu bersolek, yang mana
sering membuat kita terlambat kuliah. Saya rindu menuangkan pemikiran-pemikiran
kita yang seringkali sejalan. Saya rindu mendengar suara cemprengmu yang tak
jarang memecah konsentrasi saat kuliah. Saya rindu hadirnya kamu di kamar kost
saya saat kuliah usai. Saya rindu melihat kamu di kelas dan berkumpul bersama
kami, Desh. Saya rindu kamu. Kami rindu kamu.
Mungkin kami kurang peka hingga tidak mengetahui sakit yang
kamu derita. Tapi percayalah pada kami, Desh, itu bukan karena kami tidak
sayang. Kamu adalah sosok yang selalu terlihat ceria dan penuh semangat di mata
kami. Kami tahu kamu rentan sakit dan cukup ringkih untuk bepergian jauh,
hingga kamu pun dijaga ekstra oleh orang tuamu. Namun, kembali lagi, sosokmu
yang ceria membuat kami tertipu hingga tak mengetahui parahnya penyakit yang
kamu derita. Terlebih lagi, kamu cukup hebat untuk menyembunyikannya dari kami.
Maaf atas penilaian kami yang salah selama ini.
Beristirahatlah dengan tenang, Kawan. Tak usah kamu pikirkan
kesalahan yang mungkin pernah kamu lakukan pada kami, karena kami sudah
memaafkannya. Selamat jalan, Desha Mughni Effendy. Semoga langkahmu dimudahkan
oleh Sang Khalik.
No comments:
Post a Comment